Aku mempunyai serorang teman bernama Alexandra Brietta. Dia adalah
anak yang sempurna. Sampai banyak yang ingin menjadi sepertinya, termasuk aku. Ayahnya
seorang wiraswasta sekaligus sutradara film. Ibunya mempunyai tempat salon yang
internasional. Aku pernah mencoba untuk menjadi dirinya dua kali. Tapi semua
itu gagal total.
Kesatu saat aku mengikuti model pakaiannya yang super girly
itu. Dia selalu memakai rok selutut dan highheels. Padahal aku tidak suka
memakai rok dan highheels. Tetapi aku mengikuti dia. Saat waktu istirahat, aku sedang
membawa segelas the hangat. Tapi, tiba-tiba aku tersandung highheelsku dan segelas teh
hangat itu tumpah ke baju Mutia temanku. Akhirnya aku dihukum guru.
Kedua saat aku mengikuti les Ipa bersamanya. Dia selalu
mendapatkan nilai terbagus. Jadi aku mengikutinya, bukannnya aku belajar giat,
malah menyontek pekerjaannya (Jagan ditiru). Jadinya aku kena hukuman lagi.
Hari ini, aku akan mengikuti ekskul B.Inggris, tapi Alex
mengikuti ekskul Ipa, jadi aku terpaksa ikut dengannya, hehehe.. saat di ruang
laboratorium, para murid di suruh membuat suatu percobaan. Entah apa aku tidak
tahu. Aku mencoba mencampur semua bahan pokok di meja. Dan hasilnya..
percobaanku gagal total. Aku mencium bau tak sedap dari hasil percobaanku. Jadinya
aku pingsan. Dan dibawa ke UKS.
Setelah aku sadar, aku membuka mata dan terlihat Alex di
sampingku.
“Eh Neta, kamu sudah sadar? Tadi kamu pingsan di ruang
laboratorium,” kata Alex.
“Hehe.. sorry ya,” sebenarnya aku ingin mengatakan sejujurnya bahwa aku ingin menjadi dirinya. Tapi aku tidak bisa. Tapi aku harus mengatakannya.
“Ehhmm Al, sebemarnya aku tidak ingin mengikuti ekskul Ipa, tapi aku ingin menjadi sepertimu, maaf ya..” jelasku singkat dan padat.
“Eh, justru aku ingin sepertimu. Kamu mempunyai keluarga, orangtua lengkap dan saudara kandung,” tiba-tiba Alex bicara begitu.
“Maksudmu orang tuamu..” aku memutus omonganku.
“Orangtuaku cerai dua hari yang lalu, dan aku tinggal bersama ayahku, aku tidak mempunyai saudara yg menemaniku,” sahutnya.
“Maafkan aku, aku ikut prihatin,” setelah sedikit bicara di ruang UKS, Alex kembali ke laboratorium. Aku memikirkan suatu hal di ruang UKS. Ternyata, ‘We can’t be somebody else’ yah, kita harus jadi diri sendiri okay.. Be Yourself :)
“Hehe.. sorry ya,” sebenarnya aku ingin mengatakan sejujurnya bahwa aku ingin menjadi dirinya. Tapi aku tidak bisa. Tapi aku harus mengatakannya.
“Ehhmm Al, sebemarnya aku tidak ingin mengikuti ekskul Ipa, tapi aku ingin menjadi sepertimu, maaf ya..” jelasku singkat dan padat.
“Eh, justru aku ingin sepertimu. Kamu mempunyai keluarga, orangtua lengkap dan saudara kandung,” tiba-tiba Alex bicara begitu.
“Maksudmu orang tuamu..” aku memutus omonganku.
“Orangtuaku cerai dua hari yang lalu, dan aku tinggal bersama ayahku, aku tidak mempunyai saudara yg menemaniku,” sahutnya.
“Maafkan aku, aku ikut prihatin,” setelah sedikit bicara di ruang UKS, Alex kembali ke laboratorium. Aku memikirkan suatu hal di ruang UKS. Ternyata, ‘We can’t be somebody else’ yah, kita harus jadi diri sendiri okay.. Be Yourself :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar